Penulis: Kartika Dewi

Untuk kali ini saya ditugaskan mewawancari murid Unisyn yang belum sukses. Nara sumber yang dipilihkan adalah Doddy Efrizal, murid Unisyn Square 5 yang dulunya pernah menjadi anggota/karyawan salah satu perusahaan dibawah grup Equitas.
Setiap karyawan yang bekerja di salah satu perusahaan dalam grup Equitas setelah lewati masa probation dan terbukti berprestasi bagus akan diberi bantuan kewirausahawan dalam berbagai bentuk, mulai dari leadership training, administrasi hingga peminjaman permodalan. Adanya training serupa di Unisyn seakan melengkapi kesemua itu. Waktu kami temui, pak Doddy dalam proses transisi meninggalkan kantor Equitas, sebab usaha wiraswastanya dinilai sudah layak bergerak mumpuni, sudah cukup menggantikan gaji bulanan yang selama ini beliau erima dari Equias Club..
Sewaktu kami temui beliau di Cafetaria Equitas masih di Green Garden (Equitas) belau baru balik di Jakarta dan tampak masih lelah setelah usai merampungkan program Pembajaan atau MOS (Men of Steel) dari Unisyn. Dari segi fisik jelas terlihat pak Doddy tubuhnya yang makin gempal, berisi dan  penampilan terlihat mudah senyum, makin ramah.


Capek ya pak?” saya dan mas Harris Daeng Parani membuka wawancara.
Wah, bukan capek lagi deh. Sebagai pemula naik gunung, apalagi gunung Lawu, sebetulnya saya sarankan ke coach Naomi untuk memulai pendakian dari Cemoro Kandang, walaupun jalurnya bisa dibilang lebih panjang dari Cemoro Sewu, tapi tingkat kemiringan bisa dibilang masih aman”. Naomi Andriani (adik operatif Susi) adalah Direct Coach pak Doddy.
Si teteh (Naomi) menolak dengan alasan jalurnya kurang menantang. Jadi dia pilih melewati jalur Candi Cetho. Bisa ditebak, kami melewati yang banyak pendaki disebut dengan pasar setan, jalur yang terbilang sangat angker. Medannya sulit, didominasi tanjakan terjal serta jurang yang cukup dalam. Ada yang bilang jalur ini dipercaya sebagai jalur perlintasan ke alam ghaib. Banyak pendaki yang dihadapkan pada hal-hal aneh ketika melewati jalur ini, tidak terkecuali kami. Itu namanya suara-suara seperti orang di pasar padahal kami di gunung, dibalas sampai...tawa cekikikan wanita. Sepertinya itu suara Kuntilanak. Ngeri kali…....”

Yuk lanjut” pak Doddy mengintrupsi sendiri.
Jenis bisnis apa yang tengah atau akan digarap pak Doddy?” saya membuka pertanyaan.
Ini pertanyaan bagus dan bagus untuk dipelajari teman teman... Sewaktu di awal tahun saya gabung Equitas Club, saya ada idea mau dirikan toko kelontong. Lalu entah kenapa, mungkin dari catatan prestasi kerja saya, beberapa petinggi Equitas arahkan saya ke sesuatu yang lebih besar – mal. Bukan bikin gedung mal baru melainkan mencaplok mal mal tua. Wah tentu saja gagasan ini membuat saya berbunga bunga meskipun saya tahu sudah tentu modal yang harus digelontorkan sangat tidak sedikit, dalam hitungan milyar. Tapi teman teman di Equitas sudah menyatakan siap membantu. Coba tuh...dimana dan kapan lagi saya bisa dapat kesempatan emas seperti itu. Dengan semangat berapi api saya buat proposal bisnisnya. Waktu pengajuan proposal ini kebetulan  bersamaan dengan transisi saya dari Equitas ke Unisyn. Proposal sudah tentu disetujui oleh Team Bisnis Equitas seperti pak Anis Advani dan bu Made Pujawati. Namun kemudian terhenti sebentar karena waktu saya harus fokuskan untuk jalani berbagai Screening Test dari Unisyn yang...ampun ampunan sulitnya. Jujur, nilai kelulusan saya masuk Unsyn pas pasan saja, sekedar penuhi syarat minimum. Setelah saya diterima dan mulai jalani pelatihan Uni-G saya baru teringat lagi proposal bisnis saya. Kalau di Equitas cukup andalkan proposal bisnis, di Unisyn meminta satu tambahan, yakni business model. Tidak masalah! Saya sudah terbakar semangat. Saya buatkan dengan bimbingan Coach Naomi. Namun semangat menggebu itu anehnya tidak membuat Coach Naomi terpukau. Selesai membaca bisnis model Mal Take Over dari saya, dia berikan komentar: Disclaimer atau kata lainnya tidak tahu! Wah, saya heran bukan main. Bisnis bangun mal yang bagi banyak orang itu bagai bangun istana, eh dari sisi Unisyn dipandang cuma sebelah mata. Atas saran Naomi saya diminta konsultasi ke Management Equitas untuk minta second opinion”
Secara refleks saya dan pak Harris saling berpandangan, ikut bingung, kenapa Unisyn sampai punya sudut pandang berbeda dari orang kebanyakan. “Nah, waktu saya menghadap salah satu direksi Equitas, pak ratanjit, kebetulan beliau sedang ngobrol santai dengan salah satu senior operatif Unisyn, orang Filipina, Butch Espina. Saya diminta duduk dulu menunggu pak Ratanjit menanda tangani sesuatu.
Secara iseng Mr Butch melihat berkas yang saya bawa, lalu berkata:”whose business model is that, sir? ”
Mine, mr Butch. Want to see this?”
Who's your coach?”
...mmm Naomi, sir. Why?”
O, Naomi, Susi's sister. Okay...just want to know”
Do you want to take a look at this business model, sir?”
No, thanks. Naomi wll go from there to Susi, for further approval. That's the procedures. Susi's more senior than I am. Besides, it's a cross crew. Not good”
Please mr Butch. I'd be happy if you take a look at this..”  pinta saya penuh harap.
okay” akhirnya mr Butch mau luangkan sebentar waktunya membaca model bisnis saya dan ternyata komentar Bucth sama dengan Coach Naomi. Disclaimer.
Butch menjelaskan lebih lanjut dalam bahasa Inggris bahwa segala aktivitas kita di dunia ini harus selalu mempertimbangkan 2 dimensi penting, yaitu dimensi ruang dan waktu dan demikian juga dalam hal bisnis. Para pebisnis offline harus lebih memperhatikan produk dan lokasi tempat mereka menjual dan lebih memanfaatkan teknologi. Sekarang itu dengan adanya disruption banyak harga jadi turun sekali. Adanya e-commerce, masyarakat membeli segalanya di online lebih murah. Sebenarnya bukan pendapatan masyarakat yang berkurang, tetapi daya beli masyarakat yang berubah. Masyarakat lebih memilih untuk membeli barang-barang online, mereka bisa dapat lebih banyak dibanding mereka harus belanja langsung ke tempat perbelanjaan, misalnya mall. Tidak perlu repot-repot keluar rumah. Disruption telah terjadi. Sepinya pengunjung membuat pendapatan toko toko di mal tak signifikan, tidak sesuai target manajemen. Itu karena perubahan budaya berbelanja masyarakat. Banyaknya gerai ritel yang tutup di mal membuat banyak pihak menuding daya beli masyarakat yang kian lesu menjadi penyebab. Bukan karena itu. bukan terjadi akibat turunnya daya beli. Penutupan gerai terjadi akibat pergeseran dunia usaha offline menuju online. Ini yang disebut disruption.
Mayoritas penduduk yang masuk dalam golongan kelas menengah ke bawah itulah konsumen mal. Sementara mayoritas masyarakat kelas menengah atas seperti pelatih anda Naomi, lebih memilih berbelanja di luar negeri. Jadi karena perubahan pergeseran (shifting) pola konsumsi masyarakat terhadap pembelian secara online. Realita ini otomatis menggerus penjualan ritel secara konvensional (offline).Lebih lanjut Butch menambahkan, sebenarnya peralihan pola konsumsi ini tak hanya melanda Indonesia. Kondisi serupa juga terjadi secara global, seperti di Filipina,  Amerika Serikat (AS). Butch menyebut dua ritel besar Walmart dan Toys R Us bahkan menutup gerainya pada 2018. Butch kemudian menutup review-nya dengan mengatakan: "dan kalau pola konsumsi sudah beralih, ya tidak balik lagi”
Sambil meneguk liang teh yang disajikan di kafe, pak Doddy melanjutkan, Itu sebabnya saya kini menekuni jenis bisnis yang lain. Karena Teknologi akan mengubah otot dengan robot, semua diganti online. Budget orang orang lebih banyak dialokasikan untuk hal lain. Pada intinya, perkembangan ekonomidigital (e-commerce) memberikan dampak buruk pada bisnis konvensional. Sebab terbukti mampu memotong mata rantai perdagangan. 
"Kemudian setelah usaha pendirian mal proposalnya ditolak, lalu pak Doddy beralih ke pengajuan bisnis apa?” tanya pak Harris.
Saya ajukan bisnis kecil, usaha fotokopi. Mesinnya cukup menyewa saja dari Astra Grafia. Tapi kembali reaksi dari Coach Naomi mencengangkan saya”
Reaksinya bagaimana pak?” tanya lanjut dari pak Harris.
Kata Coach Naomi, “Tidak salah tuh...? Mau bisnis jasa fotokopi? Mungkin 10 atau 5 tahun mendatang bisnis ini menjadi langka, sama halnya dengan bisnis wartel dan warnet” tukas Coach.
Kata Naomi lebih lanjut, apa yang dibutuhkan orang nantinya bukan lagi mesin fotokopi. Tetapi mesin scan atau scanner! Di Masa datang orang akan sangat jarang fotokopi, sama halnya dengan kebutuhan faks. Ini cukup mengagetkan saya...Sampai akhirnya kemudian saya disetujui menekuni bisnis jasa digital marketing. Bisnis inilah yang kini membesarkan ekonomi saya. Rupanya bisnis ini disebar lewat sosial media saja tidak cukup karena diperlukan tim-tim khusus untuk bisa melejitkan bisnis iniUntungnya Equitas Business Team dengan senang hati membantu saya, karena mereka juga butuh 'ilmu'nya..ilmu Uni-G terus terangnya.
Contohnya saja, diperlukan seorang content creator untuk mengonsep akun media sosial, visual designer, copywriter, dan juga seseorang yang bisa melejitkan bisnis lewat instagram atau facebook ads. Posisi tersebut tidak semua orang bisa melakukannya, tapi ini peluang yang bisa dijadikan lahan bisnis. Orang yang membutuhkan jasa internet marketing adalah perusahaan untuk mempromosikan produknya agar bisa dikenal masyarakat luas.
Bisnis digital marketing saat ini semakin menunjukan trend yang positif dan terus mengalami peningkatan dengan signifikan. Hal ini karena usaha pemasaran secara digital lebih banyak disukai oleh pelaku usaha, daripada pemasaran dengan cara konvensional biasa. Sistem pemasaran secara digital dirasa lebih dapat menjangkau konsumen secara relevan dan tepat waktu serta langsung pada pribadi orang yang akan membutuhkan produk-produk hasil usaha tersebut.

Demikianlah sedikit penjelasan dari pak Doddy murid Unisyn mantan anggota Equitas Club.
Usaha yang dijalaninya bisa terbilang lancar. Pak Doddy contoh bagaimana ia berpikir untuk mencoba memasarkan bisnis jasa marketing melalui bantuan teknologi dengan kata lain melalui Internet Marketing. Kami simpulkan memang pebisnis sekarang perlu kuasai dari dasar tentang apa itu Internet Marketing, peluang-peluang yang bisa diraih dan bagaimana memaksimalkannya dalam mendukung usaha ataupun meng “create” usaha baru.
Dari hasil kami mewawancari murid Unisyn di level yang masih rendah, Square 5, bisa kami simpulkan memang sudah dengan mudah terlihat hasil gemblengan fisik dan mental dari institusi ini. Pak Doddy yang kami kenal dulu sebagai sesama anggota Equitas Club kini sudah self transformed oleh Unisyn. Sayangnya, institusi ini sudah tidak lagi menerima murid baru...sungguh sayang.




Hingga bulan ketemu bulan kemudian latihan terus berlanjut. Saya tidak pernah menanyakan waktu itu apakah sudah ada dari murid yang dilatih itu berhasil meraih impiannya. Sebab saya tahu betul saya termasuk pilot project dengan kata lain ‘merintis’. Tidak jarang dalam kurun waktu itu ada bertanya tanya dalam hati saya apakah pelatihan ini betul akan menggiring saya ke kesuksesan. Namun penyangkalan dalam hati itu selalu saya padamkan sendiri demi melihat begitu tekun dan sabarnya coach melatih saya, tidak kenal waktu atau keadaan cuaca. Saya pernah bersedih hati atas suatu pengalaman bersama. Kami hanya punya satu tenda kecil dan karena kami berlawanan jenis, coach selalu mengalah tidur di luar beratapkan langit. Kami sedang berlatih di kaki gunung. Selesai pelatihan itu hujan turun begitu derasnya. Karena lelah,  saya tertidur pulas, Sawan goleah ~
tidur tidak pilih-pilih tempat karena sudah ngantuk sekali,  tidak menyadari hujan turun. Saya terbangun karena air yang terperangkap di atas tenda mendadak jatuh tumpah. Saya teringat coach dan segera melongok keluar. Ya ampun! Saya melihat dirinya sedang dibawah pohon dengan baju basah kuyup. Menggigil hingga mengemeretakkan giginya. Saya segera keluar tenda dan menyuruhnya masuk ke dalam menggantikan saya tapi dia bersikeras tidak mau. Saya memarahi dia sambil nangis dan bertanya kenapa tadi tidak bangunkan saya saja waktu hujan lebat tadi.


Taman Nasional Halimun Salak
Di pengalaman lain terkesan agak lucu. Waktu itu sebelum berangkat ke Alpha Point (lokasi Adventure) yang mengambil tempat di Taman Nasional Halimun Salak, saya memang sudah menyadari kondisi tubuh sedang tidak fit. Sedang flu. Tapi saya keras lawan rasa sakit itu mengingat kesempatan saya berlatih dengan coach belum tentu bisa sebulan sekali. Padahal coach sudah berusaha membatalkan saja program Adventure di hari itu. Singkatnya kami dengan team tetap berangkat. Sampai di kaki gunung, setelah buka tenda dan mulai berlatih rupanya cuaca tidak bersahabat. Bukan saja hujan, kabut tebalpun turun menyelimuti. Visibility (jarak pandang) bisa dibilang zero. Akhirnya coach memutuskan menghentikan pelatihan sekalipun saya tetap ngotot minta lanjut hingga selesai. Eh, hujannya sih hanya sebentar. Sekitar 10 menit saja terus reda. Tapi kabut kian menebal dan...efek dari hujan ternyata hampir fatal ke tubuh saya yang memang sedang tidak fit. Masih dalam keadaan basah kuyup saya pingsan, di dalam tenda. Sudah tentu coach jadi panik. Ia segera lakukan tindakan karena takut saya terserang hipotermia. Disamping itu, mereka yang punya hobby pecinta alam pastinya tahu filosofi:”panas memang bisa mematikan tetapi dingin langsung membunuh”. Lalu apa yang dia lakukan? Dia tutup kedua matanya dengan sabuk perguruan, katanya, tapi saya percaya itu, lalu...dia lucuti semua pakaian saya, dia keringkan dengan handuk dan selesainya dia kenakan kembali pakaian saya yang masih kering.Setelah selesai semua barulah dia lepas kembali ikatan penutup matanya. Nah sewaktu terbangun sudah tentu saya kaget bukan kepalang demi menemukan bahwa pakaian yang saya kenakan sudah ’diganti’. Saya marah dan yang namanya Susi kalau sudah marah banyak orang tahu Susi itu galak seperti macan Siberia. Hampir saja saya tampar dia meski dia terus berusaha menenangkan saya dan meyakinkan saya bahwa tadi dia sama sekali tidak lihat karena kedua matanya ditutup. Tapi akhirnya saya sendiri yang menghentikan marah saya setelah menyadari sesuatu yang ganjil dibadan saya, yang cukup membuktikan bahwa memang dia berkata benar, karena ternyata dia memasangkan pakaian dalam ke tubuh saya dalam keadaan terbalik.... Namun sejak itu saya semakin mengagumi dia bukan saja sebagai coach yang baik melainkan juga sebagai sosok pria yang tahu tata krama.

PART 9


Di Moskow saya masak sendiri. Tidak masalah karena para siswi Q di Unisyn harus bisa masak. Saya jarang jajan diluar. Untungnya disini terdapat pasar yang menjual bahan-bahan makanan dengan relatif murah. Contohnya bawang bombay hanya sekitar 15 rubel atau 4500 rupiah/kg, dan telur bisa dibilang harganya sama seperti di Indonesia. 
 
Asrama Mahasiswa Moscow State University
Bagaimana dengan tempat hidup kami disini? Yang jelas, saya tinggal di asrama. Saya tinggal di gedung asrama yang dikenal dengan "Главное здание" (Glavnoe zdanie; Main Building, Gedung Utama). 

Kamar kamarnya memang dirancang agar setiap orang punya kamar sendiri, tidak ada roommate, dengan fasilitas tempat tidur, meja, lemari. 

Apa yang harus berbagi bersama adalah toilet,  shower, dapur lengkap dengan lemari es. Sprei, bantal dan handuk disediakan pihak asrama. 

Tidak ketinggalan kata “murah”, karena per bulan saya sebagai mahasiswa asing yang mendapat beasiswa pemerintah Rusia hanya membayar 60 rubel untuk biaya sewa dan uang kerbersihan 80 rubel. Jadi total perbulannya hanya 140 rubel yang jika dirupiahkan hanya sebesar Rp. 42 ribu. Begitu beruntungnya kami disini, karena kami juga tidak membutuhkan kendaraan untuk menuju tempat kuliah alias peshkom (jalan kaki) 10 menit. Jadinya sehat dan super irit.
 
Saya teringat aktivitas rutin di dapur asrama. Saat di dapur, saya sering bertemu dengan mahasiswa asing lainnya dan sama-sama memasak. Pada hari-hari pertama di sana saya langsung lakukan kegiatan prospectingala perguruan dan saya bertemu dengan seorang gadis dari China, Sharon Yi Peng. Sambil memasukkan bumbu-bumbu masakan, kami berbincang-bincang. Dia mengaku kalau tidak bisa memasak. Bila di rumah, orang tuanyalah yang mempersiapkan makanan untuknya. Jadi, ketika sampai disini inilah dia baru mulai belajar memasak. Saat dia bertanya apakah saya bisa dan biasa memasak, saya menjawab “yes”. Paling tidak, saya tidak pernah membuang makanan yang saya masak. Saya pernah menjumpai gadis China itu yang membuang satu panci makanan ke dalam plastik dan menaruhnya di tong sampah. Saat saya melihat itu, saya bertanya alasan mengapa makanan itu dibuang. Dia santai dia menjawab bahwa rasanya aneh, jadi dia putuskan untuk membuang makanan yang dimasaknya itu.
Saat selesai membuang makanan itu, dia menghampiri saya dan bertanya cerita saat saya memulai belajar memasak. Saya jawab bahwa mulanya saya belajar memasak karena saya mengikuti suatu perguruan yang memberikan pelatihan kesuksesan. Dia terheran heran kenapa pelatihan sukses itu juga termasuk di dalamnya ada pelatihan masak memasak. Lebih heran lagi sewaktu saya katakan bahwa ketrampilan lainnya seperti hiking menembus hutan di malam hari sampai beka diri, mematahkan benda keras hingga hal hal kecil seperti pemilihan wangi parfum. Langsung dia menyatakan ingin keikutsertaannya. Hingga kini dia masih aktif dan sudah masuk Level 5 dibawah pelatihan saya langsung. Hingga kini juga dia masih serinig berucap syukur bisa menjadi siswa perguruan The Universal Synergy.
Sharon Yi Peng
POSTED BY EQUITAS AT  2:21 AM   

Di awal tahun saya diajarkan bahasa Rusia di podgotovitelniy fakultet alias fakultas persiapan. Dosen-dosen pengajar bahasa Rusia juga ramah-ramah dan bersedia membantu menjelaskan apapun yang kita tanyakan tentang bahasa Rusia dengan sabar. Perkuliahan bahasa Rusia tidak hanya monoton untuk belajar bahasa Rusia saja, namun kami juga diajak ke tempat-tempat lain seperti museum, teater dan tempat-tempat lainnya.
Setelah setahun di fakultas bersama, akhirnya apa yang selama ini saya tempel di Dream Book terwujud. Saya diterima kuliah di Universitas Negeri Top 5 Rank di Rusia, yakni Moskóvskiy Gosudárstvennyy Universitét Imeni M. V. Lomonósova (Московский государственный университет имени М. В. Ломоносова) atau Universitas Negeri Moskow jurusan Fakultas Komputasi Matematika dan Cybernetika.
Gerb MGU.jpg
Moscow State University Lomonosov
I love Moscow. Bersih dan nyaman, juga iklim Rusia yang lebih sejuk. Menghadapi musim dingin untuk yang pertama kalinya merupakan tantangan terbesar bagi saya. Pola belajar di Rusia dan Indonesia baik dari mahasiswanya ataupun dari dosennya itu sendiri, juga banyak perbedaan.  Saya perhatikan orang-orang di sini selalu menggunakan buku agenda atau sejenisnya yang bisa menulis rangkaian aktivitas, sehingga hidupnya lebih teratur dan terjadwal. Bukankah itu semua sudah dilatih di Unisyn? Semua kegiatan dan waktunya dicatat di buku agenda. Semakin hari semakin saya membuktikan langsung bahwa memang Unisyn memberikan banyak bekal bagi setiap muridnya dalam menghadapi hidup. Unisyn is The Way of Life. Ini jelas membuktikan bahwa hidup para siswa Unisyn mempunyai manajemen yang bagus dan pastinya harus dicontoh dan dilaksanakan karena Hidup Disiplin Tanda Orang Sukses.